'Kamu kok tega biarin anakmu jauh di sana, masih mending kalo di Malaysia bisa pulang ke Indonesia tiap sabtu tiketnya murah'
'Kan kalian jadi kehilangan. Kamu kehilangan anakmu, rumahmu jadi ga enak kan ga ada anakmu'
'Anakmu kehilangan rumah, keluarga, teman, makanan'
'Aku udah bilang nggak setuju kamu ijinkan anakmu ke sana,'
Mama menjawab,
'Kami juga sudah mempertimbangkan mas. Bahwa scholarship abroad ribuan orang banyak yang mau dan tidak semua orang mendapatkan kesempatan ini'
Dia pun menjawab.
'Iya tapi kan anakmu di belahan bumi sebelah sana.'
'Ibaratkan bola di tembusin, Indonesia di sini anakmu di sana. Aku tu nggak tega liat kalian. Sekarang kan liat, aku suka sedih liat kamu dan anakmu.'
Mama berkata,
'Mas, anakku punya semangat. Sekarang doain aja. Jauh itu ga enak, apalagi aku mamanya nggak kuat sebenarnya. Tolong doain aja.'
Dan semua pun berakhir. Percakapan singkat padat itu, membuat saya berpikir banyak, dan menimbulkan suatu pertanyaan,
Kalau semua yang aku punya ada di Indonesia, untuk apa aku di sini?
Apakah aku salah pilih jalan ini?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar