Turkey here I am

Daisypath Vacation tickers

Rabu, 16 Februari 2011

Am I Wrong?

Ada orang yang bilang ke mama setelah baca status facebook saya.

'Kamu kok tega biarin anakmu jauh di sana, masih mending kalo di Malaysia bisa pulang ke Indonesia tiap sabtu tiketnya murah'
'Kan kalian jadi kehilangan. Kamu kehilangan anakmu, rumahmu jadi ga enak kan ga ada anakmu'
'Anakmu kehilangan rumah, keluarga, teman, makanan'
'Aku udah bilang nggak setuju kamu ijinkan anakmu ke sana,'

Mama menjawab,
'Kami juga sudah mempertimbangkan mas. Bahwa scholarship abroad ribuan orang banyak yang mau dan tidak semua orang mendapatkan kesempatan ini'

Dia pun menjawab.
'Iya tapi kan anakmu di belahan bumi sebelah sana.'
'Ibaratkan bola di tembusin, Indonesia di sini anakmu di sana. Aku tu nggak tega liat kalian. Sekarang kan liat, aku suka sedih liat kamu dan anakmu.'

Mama berkata,
'Mas, anakku punya semangat. Sekarang doain aja. Jauh itu ga enak, apalagi aku mamanya nggak kuat sebenarnya. Tolong doain aja.'

Dan semua pun berakhir. Percakapan singkat padat itu, membuat saya berpikir banyak, dan menimbulkan suatu pertanyaan,

Kalau semua yang aku punya ada di Indonesia, untuk apa aku di sini?
Apakah aku salah pilih jalan ini? 

Jumat, 11 Februari 2011

Kerinduan Anak Rantau

Masa-masa SMA yang 'katanya' paling indah, yang sedang aku rindukan.


Aku merindukan masa-masa SMAku, dimana kekhawatiran hanya tentang ulangan, tanggal yang sama dengan nomor absen (biasanya kena maju pelajaran, terutama fisika oleh Bu Asri yang paling horor), terlambat masuk sekolah, Ujian Nasional, Ujian Mandiri Universitas, Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri, teman yang menyebalkan, dan berbagai macam kekhawatiran yang sebenernya tidak perlu dikhawatirkan.

Aku merindukan masa-masa SMAku, dimana keinginan hanya sekedar pelajaran kosong agar bisa main poker atau jajan di kantin, dimana keinginan hanya supaya ada rapat guru agar bisa pulang cepat, keinginan untuk bermain bersama teman, keinginan yang paling masuk akal pun lulus UN dan lolos PTN (yang akhirnya kami dapatkan dan alhamdulillah lulus 100%)

Aku merindukan masa-masa SMAku, dimana penglihatanku hanya berupa nilai ulangan tuntas atau tidak tuntas, jalanan yang macet, kelas yang amburadul, teman yang unik (baca: CODOT/ODITYA), dan lain lain yang masih dapat diterima akal sehat.

Aku merindukan masa-masa SMAku, dimana pendengaranku hanya berkisar guru yang ceramah di kelas, orangtua yang menasehati, curhatan teman yang putus cinta, dan sebagainya.

Aku merindukan masa-masa SMAku, dimana suasana hati yang buruk hanya karena omelan orangtua (dan sekarang aku merindukan omelan orangtuaku secara nyata), nilai yang kurang memuaskan, teman yang menjengkelkan, dan banyak hal lain semacamnya.

Aku merindukan masa-masa SMAku, dimana yang aku lakukan hanya bercanda dengan teman, pergi dengan keluarga, belajar, sibuk memikirkan PTN, ikut pelajaran tambahan, dan hal lain yang standar-standar saja.

Aku merindukan masa-masa SMAku, dimana semua waktu yang aku lewati hampir bersama dengan orangtuaku dan atau temanku.

Aku merindukan masa-masa SMAku, dimana aku bisa hidup dengan mudahnya.


Aku merindukan masa-masa SMAku..
Aku merindukan masa-masa SMAku..
Aku merindukan masa-masa SMAku..
Aku merindukan masa-masa dengan ibuku..
Aku merindukan masa-masa dengan ayahku..
Aku merindukan masa-masa yang dulu..
Aku rindu.. Rindu sekali :')